Langsung ke konten utama

Hadis larangan mencari aib orang islam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”

1. Apa pengertian الظَّنَّ? 

Prasangka adalah sesuatu yang terbetik di dalam hati, hanya berupa dugaan dan tidak ada sesuatu yang menunjukkan kejelasan dan kepastian. Dan prasangka terkadang baik dan seringnya buruk. Adapun prasangka yang dimaksudkan dalam hadis ini adalah prasangka yang buruk. Reff

2. Apa pengertian تَجَسَّسُوا? 

Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk. Reff

3. Mengapa Nabi mengatakan bahwa persangkaan merupakan perkataan yang paling dusta? 

Prasangka lebih dusta. Hal ini karena orang yang berdusta dia sadar bahwa dirinya sedang berdusta, sementara seseorang yang berprasangka, prasangka itu salah dan merupakan kedustaan tetapi dia merasa benar. Dia bangun prasangkanya tanpa dalil dan dia menyangka prasangkanya itu benar. Dari sisi ini maka prasangka lebih dusta dari kedustaan yang biasa. Reff

4. Kapan Boleh Berprasangka Buruk?

Adapun terhadap para pelaku maksiat dan kefasikan, maka boleh berprasangka buruk terhadap mereka, karena seperti itulah keadaan luar yang tampak pada mereka. Kita diperintahkan untuk menghukumi sesuatu sesuai dengan keadaan luarnya yang terlihat, dan keadaan luar yang terlihat dari mereka (para pelaku maksiat, orang-orang fasik, orang-orang jahat, dan pelaku kriminal) adalah kejelekan, maka boleh berprasangka buruk kepada mereka.

Berprasangka buruk boleh jika memang ada indikasi yang kuat. Contohnya kisah yang Allah sebutkan dalam Al Quran tentang saudara-saudara Nabi Yusuf u  yang meminta izin kepada ayah mereka (Ya’qub u) untuk membawa adik mereka (Yusuf) bermain-main. Lantas mereka memasukkannya ke dalam sumur, karena iri. Kemudian mereka pulang bertemu dengan ayah mereka, lantas mengatakan bahwa Rasulullah Yusuf u telah dimakan oleh serigala. Dan untuk meyakinkan sang ayah, mereka berkata, “Engkau tidak akan percaya kepada kami wahai ayah, meskipun kami jujur.” Mereka juga datang di malam hari sambil menangis seakan-akan Yusuf  meninggal dunia. Mereka juga membawa bukti berupa baju Yusuf yang penuh darah.

Akan tetapi Nabi Ya’qub u tidak langsung membenarkan perkataan mereka dan tetap berprasangka bahwa ini adalah kedustaan anak-anaknya, karena ada indikasi yang sangat kuat yang dilihat oleh beliau, yaitu baju Rasulullah Yusuf yang berlumuran darah akan tetapi tidak terkoyak (tidak sobek). Apakah ada serigala yang begitu baik, ketika menyerang mangsanya tidak dicakar tetapi hanya dimakan saja? Tentu saja hal ini tidak mungkin, karena jika benar Rasulullah Yusuf dimakan serigala tentu bajunya sudah terkoyak oleh cakaran serigala.

Dari sini Rasulullah Ya’qub u tidak serta-merta membenarkan perkataan anak-anaknya yang menyatakan bahwa adik mereka (Yusuf) telah dimakan serigala, maka seperti ini diperbolehkan. Jadi, boleh berprasangka buruk jika memang ada indikasi yang kuat, seperti yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub u. Tetapi jika tidak ada, maka haram berprasangka buruk. Reff Youtube




Komentar