Khutbah I
A. Orientasi muslim dalam mengikuti Nabi adalah surga
Kita sebagai seorang muslim yang baik harus senantiasa berorientasi kepada akhirat. Maksudnya; kita harus selalu memikirkan nasib kita di akhirat kelak. Apakah dengan apa yang kita lakukan di dunia saat ini akan berbuah manis di akhirat? Atau malah sebaliknya; justru berakibat buruk di akhirat kelak.
Sebagaimana firman Allah ta'ala:
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ }
Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah! Dan unzur - lihatlah setiap kalian apa yang dikerjakannya untuk hari esok!. [Surat Al-Hasyr: 18]
Maka mari mulai sekarang kita fikirkan dan kita siapkan kehidupan kita di akhirat.
B. Keutamaan sunnah dan devinisinya
Hadirin jama'ah shalat jum'at rahimani warahimakumullah.
Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa bahwa Nabi pernah bersabda di depan para sahabatnya; bahwa umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Sahabat Nabi bertanya: siapa golongan tersebut wahai rasulullah? Nabi menjawab:
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
Yaitu mereka yang sama denganku dan sama dengan sahabatku. HR. Tirmizi
Dari hadis di atas kita fahami; bahwa hanya dengan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kita akan masuk surga. Bahwa hanya dengan mengamalkan sunnah Nabi Muhammad kita akan masuk surga.
C.Beberapa amalan sunnah
Hadirin jama'ah shalat jum'at rahimani warahimakumullah.
Diantara sunnah Nabi yang hendaknya kita amalkan
Pertama: Tersenyum
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“HR. Tirmizi
Dikisahkan juga oleh Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di hadapanku“ HR. Bukhori.
Sunnah Nabi yang kedua yang hendaknya kita amalkan adalah memakai peci
Allah Ta’ala berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai manusia, gunakanlah perhiasanmu ketika memasuki setiap masjid” (QS. Al A’raf: 31).
Dan di antara bentuk berhias ketika hendak shalat yang dianjurkan pada ulama kepada para lelaki adalah dengan memakai penutup kepala. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:
“Telah kami sampaikan sebuah atsar dari Ibnu Umar, beliau berkata kepada maula-nya, Nafi’:‘Apakah engkau keluar menemui orang-orang dengan tanpa penutup kepala? Nafi’ berkata: Tidak. Ibnu Umar berkata:
فالله أحقُّ أن يُستحى منه
Sungguh malu kepada Allah adalah lebih layak daripada kepada yang lain‘. Hal ini menunjukkan bahwa menutup kepada itu lebih afdhal” [2. Syarhul Mumthi’, 2/137].
Tidak pernah disebutkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memakai tutup kepala ketika sholat, kecuali hanya ketika ihram. Barangsiapa yang menyangka beliau pernah tidak memakai ‘imamah ketika sholat selain pada saat melakukan ihram, maka dia harus bisa menunjukkan dalilnya. Dan yang benar itulah yang paling berhak untuk diikuti.
D. Amalan yang dianggap sunnah
Hadirin jama'ah shalat jum'at rahimani warahimakumullah.
Tahukah kita, bahwa ada beberapa amalan yang bukan sunnah namun dianggap sunnah.
Yang pertama: menggondrongkan rambut
Memang benar, rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam panjangnya sampai menyentuh bahunya, sebagaimana dalam banyak hadits, seperti:
عَنِ الْبَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ يَقُوْلُ مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِيْ لِمَّةٍ أَحْسَنَ مِنْهُ وَفِيْ رِوَايَةٍ كَانَ يَضْرِبُ شَعْرَهُ مَنْكِبَيْهِ
Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337).
Namun menggondrongkan rambut bukan lah sunnah. Sebab Nabi Muhammad menggondrongkan rambut karena memang pada masa itu gaya rambut adalah gondrong sampai ke bahu.
Ditambah lagi bahwa Nabi pernah memerintahkan orang yang mencukur sebagian rambut anaknya dan menyisakan sebagian lainnya, beliau mengatakan, “Cukurlah semua atau jangan dicukur semua!”
Andaikan memanjangkan rambut hukumnya sunnah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memerintahkan untuk mencukur, tetapi akan memerintahkan supaya dipanjangkan karena itu sunnah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
Khutbah II
A. Potret sahabat dalam mengikuti Nabi
Hadirin jama'ah shalat jum'at rahimani warahimakumullah.
Hendaknya lah kita mengetahui Hadits maupun ayat Yang Memerintahkan Kita Untuk Mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
Hadis pertama:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى
“Setiap ummatku akan masuk Surga, kecuali yang enggan.” Mereka (para Shahabat) bertanya: “Siapa yang enggan itu?” Jawab beliau: “Barangsiapa yang mentaatiku pasti masuk Surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah enggan. HR. Bukhori
Pada al-Qur'an, Allah telah memberikan ancaman keras terhadap orang-orang yang menyelisihi perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka jalan keselamatan dari ancaman itu ialah mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh Ta’ala berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-nya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [an-Nûr/24:63].
Maka kita berdoa kepada Allah agar dimudahkan dan diistiqomahkan di jalan sunnah ini. Kita berdoa agar diringankan raga dan jiwa untuk mengamalkan sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.