Langsung ke konten utama

Mengikuti sunnah menjauhi bid'ah - Khutbah Jum'at

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah


Marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan mempelajari dan mengamalkan, serta berpegang teguh di atas syariat-Nya.


Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Semoga dengan memperbanyak shalawat kepadanya kit termasuk umatnya yang mendapat syafa'at di yaumil akhir kelak.

اللهم صل على محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين


Hadirin rahimakumullah

Judul khutbah pada siang yang berkah ini adalah "mengikuti sunnah dan menjauhi bid'ah"


Sunnah ada beberapa pengertian menurut cabang dan disiplin ilmunya. Namun yang akan kita bahas pada khutbah kali ini adalah sunnah dalam persfektif ilmu aqidah.


Sunnah adalah adalah petunjuk yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqaad (keyakinan), perkataan maupun perbuatannya.


Seorang muslim harus senantiasa berkeinginan meraih kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hendaknya setiap berusaha untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan menaatinya dan tidak menyelisihinya. Karena mengikuti sunnah Rasul adalah mengikuti Allah subhanahu wata'ala.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ {31} قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ


“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir.’” (Ali ‘Imran: 31-32)


Dari ayat di atas kita dapat pelajaran penting:

1. Wajib setiap kita meraih kecintaan Allah subhanahu wata'ala

2. Kecintaan kepada Allah berarti mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

3. Kecintaan kepada Allah dan Rasul tandanya ialah mengikuti atau menaati perintah dan menjauhi larangan


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,


Oleh karena itu, hendaknya setiap kita mengikuti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan meninggalkan seluruh amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari kami, maka amalan tersebut ditolak.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)


Dalam kesempatan lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar jangan sampai terjatuh pada perbuatan bid’ah, yaitu mengada-adakan amalan ibadah baru yang tidak ada syariatnya. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,


وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Hati-hatilah kalian dari terjatuh kepada amalan-amalan ibadah baru yang diada-adakan, karena setiap amalan tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (H.R. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah)


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,


Diantara perbuatan bid'ah yang tersebar di kalangan kaum muslimin adalah merayakan maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.


Banyak saudara-saudara kita kaum muslimin merayakan hari kelahiran Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Mereka mendirikan teratak-teratak, acara demi acara. 


Kita tidak boleh merayakan maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Berikut Beberapa Alasan Dilarangnya Memperingati Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam


Pertama: Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam adalah bid’ah yang dibuat-buat dalam agama ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan keterangan sedikit pun dan ilmu tentang itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah mensyariatkannya baik melalui lisan, perbuatan maupun ketetapan beliau. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا


“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” [al-Hasyr/59:7]


Kedua: Khulafâ-ur Râsyidîn dan para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam lainnya tidak pernah mengadakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan tidak pernah mengajak untuk melakukannya. Padahal mereka adalah sebaik-baik umat ini setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :


…فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْـخُلَـفَاءِ الْـمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ ، تَـمَسَّكُوْا بِـهَـا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.


”…Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafâ-ur Râsyidîn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”


Ketiga, Merayakan hari kelahiran sama halnya dengan ulang tahun dan ulang tahun adalah kebiasaan orang-orang kristen.


Akhirnya, marilah kita senantiasa mengikuti wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang teguh di atas jalannya. Begitupula wasiat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhati-hati terhadap kerusakan yang sangat berbahaya, yaitu bid’ah serta orang-orang yang mengajaknya. Karena hal itu akan menjauhkan kita dari agama yang mulia.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA


الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْـجَحِيْمِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ، وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam adalah orang yang menampakkan tanda-tanda tertentu pada dirinya. Diantaranya adalah:


1. Mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam , mentauhidkan Allah Azza wa Jalla , menjauhi syirik, mengerjakan Sunnahnya, mengikuti perkataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, beradab dengan adabnya.


2. Lebih mendahulukan perintah dan syari’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam daripada hawa nafsu dan keinginan dirinya.


3.  Banyak bershalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sesuai dengan Sunnahnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam . Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi  dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. [al-Ahzâb/33:56]


4. Mencintai orang yang dicintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam , baik keluarga maupun Shahabatnya yang Muhajirin dan Anshar serta memusuhi orang-orang yang memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam , dan membenci orang yang membencinya.


5. Mencintai al-Qur’ân yang diturunkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam , mencintai Sunnahnya, dan mengetahui batas-batasnya.[25]


Akhirnya, marilah kita senantiasa berhati-hati dari jalan-jalan yang menyimpang dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang terbaik di umat ini baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang mengikuti mereka adalah satu-satunya jalan yang benar.


اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْـمُسْلِمَاتِ، وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْـمُرْسَلِينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَـمِينَ




Referensi :

https://khotbahjumat.com/88-ikutilah-sunnah-rasulullah-dan-jauhilah-bidah.html?__im-DhsSYFfZ=2239094612766866716

 https://almanhaj.or.id/10131-peringatan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wa-salam-menurut-syariat-islam.html