Langsung ke konten utama

Lapang Dada

 Akh Faiz Fadli Situmorang

 
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Jama'ah sidang jum'at rahimani warahimakumullah,

Diantara nikmat yang besar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah lapangnya dada. Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mengingatkan nikmat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang pertama kali Allah sebutkan adalah kelapangan dada. Allah berfirman:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴿١﴾

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (QS. Al-Insyirah[94]: 1)

Di sini Allah mengingatkan nikmat yang besar kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan nikmatNya berupa kelapangan dada.

Untuk itu, pada kesempatan yang mulia ini, khatib akan berkhutbah dengan judul LAPANG DADA

Jama'ah sidang jum'at rahimani warahimakumullah,

Hati yang lapang adalah hati yang penuh dengan kesabaran, hati yang lapang adalah hati yang hati yang pemaaf, hati yang lapang adalah hati yang dermawan, hati yang lapang adalah hati yang senantiasa tegar dan kuat di atas kebenaran, hati yang lapang adalah hati yang bahagia, dia tidak pernah berkeluh kesah. Hati yang lapang itu adalah hati yang penuh dengan ketentraman, tidak disertai dengan kekacauan hati ataupun kegalauan.

Ketika seseorang hatinya sempit, maka kesabarannya pun pendek. Ketika seseorang hatinya sempit, maka kedermawanannya pun sempit dan akhirnya dia pun menjadi pelit. Ketika seseorang hatinya sempit, maka pada waktu itu sulit untuk memaafkan orang lain. Ketika hati seseorang sempit, maka ia pun tidak bisa istiqamah di atas kebenaran.

Maka betapa agungnya dan betapa besarnya nikmat kelapangan hati. Maka Allah mengingatkan kepada RasulNya tentang nikmat yang besar ini:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴿١﴾

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (QS. Al-Insyirah[94]: 1)

Jama'ah sidang jum'at rahimani warahimakumullah,

Kelapangan dada atau kelapangan hati tidak mungkin bisa kita raih kecuali dengan mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala. Ketika seorang hamba mentauhidkan Allah dan menjadi hamba yang senantiasa menyerahkan urusan kepada Allah, yang senantiasa ia mencintai Allah, yang senantiasa ia mengharapkan karunia dan pahala dari Allah, keridhaan yang senantiasa ia inginkan dari Allah Jalla wa ‘Ala. Maka pada waktu itulah hatinya akan lapang. Oleh karena itu Allah menutup surat tersebut dengan firmanNya:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب ﴿٨﴾

“Apabila kamu telah selesai, maka berdirilah. Dan kepada Rabbmu hendaklah kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah[94]: 7-8)

Karena hati ketika senantiasa berharap kepada Allah, hatinya akan lapang. Ketika sakit ia berharap ridha Allah, maka muncullah kesabaran. Ketika pelit, ia berharap kepada Allah, maka munculnya kedermawanan. Ketika hati sulit untuk memaafkan orang lain lalu ia berharap ampunan Allah dan keridhaanNya, maka muncullah jiwa pemaaf. Dan tidak mungkin itu bisa kecuali dengan mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala.

Semakin seseorang tauhidnya kuat, semakin ia cinta kepada Allah, semakin ia beribadah hanya kepada Allah dan mengharapkan pahala Allah saja, tidak mengharapkan pujian manusia, tidak pula kehidupan dunia, maka saat itu hatinya semakin lapang, dadanya semakin lapang saudaraku.

Maka sungguh saudaraku, tidak ada nikmat yang besar kecuali nikmat tauhid. Karena tauhid itu melapangkan dada dan melapangkan hati seorang hamba.

Demikian pula dzikrullah. Seseorang yang banyak berzikir kepada Allah hatinya akan tentram. Dan ketentraman hati itu menimbulkan kelapangan dada. Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّـهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah, maka hati itu akan menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 28)

Jama'ah sidang jum'at rahimani warahimakumullah,

Demikian pula sedekah. Sedekah membuat hati kita gembira. Tidakkah kita merasakan ketika kita bisa membantu orang lain, pasti hati kita akan merasakan kegembiraan. Kegembiraan itu pengaruh daripada lapangnya dada kita.

Jama'ah sidang jum'at rahimani warahimakumullah,,

Demikian pula mengharapkan kehidupan akhirat, dimana seseorang hanya mengharapkan di hatinya kehidupan akhirat. Ini akan menimbulkan kelapangan dada bahkan kekayaan hati. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ

“Siapa yang keinginan terbesarnya adalah kehidupan akhirat saja.”

جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ

“Allah akan kokohkan urusannya.”

وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ

“Dan Allah akan jadikan hatinya kaya, penuh dengan qanaah.”

وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Dan dunia pun akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Tirmidzi)

Demikian orang yang senantiasa mengharapkan kehidupan akhirat, ia akan mudah menaati Allah, ia akan mudah menjalani sunnah Rasulullah dan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan hidupnya. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik.” Bagi siapa? Yaitu, “Bagi orang yang mengharapkan Allah dan kehidupan akhirat.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Sebaliknya, orang yang hatinya sangat mengharapkan dan menginginkan dunia, hatinya kan sempit, ia tidak akan sabar di atas ketaatan, ia pun tidak akan sabar terhadap musibah-musibah dunia, karena yang dia harapkan terbesar di hatinya adalah kehidupan dunia. Sehingga hatinya menjadi lemah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنيا همَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينيهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ

“Siapa yang keinginan terbesarnya adalah dunia, Allah akan cerai beraikan urusannya.”

Sehingga ia tidak punya kesabaran, ia tidak punya ketabahan, sehingga putus asa itu sangat mudah sekali menimpa dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan demikian dalam hadits tersebut.

فرَّقَ عليهِ شملَهُ

“Allah akan cerai beraikan urusannya”

Allah akan jadikan kefakiran itu di pelupuk matanya dan dunia pun tidak akan mendatanginya kecuali yang dituliskan saja untuknya.

Maka ingatlah, betapa pentingnya kita mendapatkan hati yang lapang, dada yang lapang.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

KHUTBAH II

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Jama'ah sidang jum'at rahimani warahimakumullah,

Orang yang hatinya penuh berharap kepada kehidupan akhirat, yang menjadikan akhirat keinginan terbesar dalam dadanya, dia akan menjadi hamba-hamba yang senantiasa menginginkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah berfirman:

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب ﴿٨﴾

“Dan kepada Rabbmu handaklah kamu berharap” (QS. Asy-Syarh[94]: 8)

Maka hatinya pun penuh dengan qana’ah. Ia merasa puas dengan yang Allah berikan kepadanya. Sehingga ia diberikan kekayaan hati.
Dan sungguh kekayaan hati itu tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu hakikatnya dengan banyaknya harta benda, akan tetapi hakikat kekayaan itu kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari no. 6446 & Muslim no. 1051)

Imam Syafi’i berkata:

إِذَا مَا كُنـْتَ ذَا قَلْـبِ قُنـُـوْعٍ، فَأَنـْتَ وَمَـالـِكُ الـدُّنْيَا سـَـوَاءٌ

“Apabila kamu memiliki hati yang penuh qana’ah, maka engkau dan raja-raja dunia pun setara”

Orang yang menginginkan kehidupan akhirat tidak berharap terkenal dalam kehidupan dunia. Yang ia inginkan adalah terkenal di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Manusia kenal atau tidak kenal itu tidak penting bagi dia.

Jama'ah sidang jum'at rahimani warahimakumullah,

Maka mari sama kita berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadi pribadi yang kuat dalam beribadah kepada Allah, menjadi pribadi yang kuat dalam istiqomah dalam kehidupannya, menjadi orang yang kuat menjauhi berbagai macam maksiat kepada Allah. Karena keinginan terbesar ialah kehidupan akhirat.

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٥٦﴾

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
إنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعوَات، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَات
اللهُمَّ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوابُ الرَّحِيم
اللهُمَّ تَقَبَّلْ اَعْمَالُنَا يَارَبَّ العَالَمِين
اللهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ تَّوَّابِيْن
اللهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْن
اللهُمَّ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوابُ الرَّحِيم

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٩٠﴾
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

Sumber:

https://www.radiorodja.com/45583-orang-yang-menginginkan-kebahagiaan-akhirat-dan-kebahagiaan-dunia/