Langsung ke konten utama

Khutbah - Semangat Ramadhan


Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan oleh Allah.

Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Terlebih lagi di bulan Ramadan yang mulia ini.


Tak lupa, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah Ta’ala, Rabb semesta alam, atas semua limpahan nikmat dan rezeki yang telah Allah berikan kepada kita semua. Di antaranya adalah nikmat iman, nikmat kesehatan, dan yang tak kalah penting, nikmat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.


Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan oleh Allah.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib akan berkhutbah dengan judul "Semangat ramadhan"


Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan oleh Allah.

Tak terasa, Alhamdulillah kita sudah melewati setengah awal dari bulan Ramadan, semoga Allah Ta’ala menerima seluruh amal ibadah yang selama ini telah kita lakukan. seorang muslim yang baik harus semakin bersemangat, semakin kencang di dalam melakukan ketaatan, dan tidak mau kalah dari saudaranya agar menjadi salah satu hamba yang sukses melewati tantangan bulan Ramadan.


Lihatlah bagaimana semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat sudah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي الله عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila memasuki sepuluh hari (yang terakhir di bulan Ramadan), beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan kainnya.’” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)


Jamaah salat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.

Para sahabat, ulama terdahulu, dan orang-orang saleh mereka semua berusaha keras untuk bisa meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


Bahkan, apa yang dilakukan Rasulullah di dalam hadis tersebut merupakan kebiasaan ‘Umar bin Khattab yang beliau lakukan sehari-hari dan tidak hanya di bulan Ramadan saja. Dahulu kala beliau bangun terlebih dahulu untuk melakukan salat malam, barulah ketika masuk pertengahan malam, ia akan membangunkan seluruh keluarganya untuk melakukan salat malam, sembari beliau membaca ayat,


وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)


Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan salat jika mereka mampu. (Latha’if Al-Ma’arif, hal. 331)


Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah Ta’ala.

Dari dalil-dalil yang telah ada, para ulama bersepakat bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang penuh pengampunan ini terletak di antara malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Di antara dalilnya adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,

تَحرّوْا لَيْلةَ القَدْرِ في الوتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَواخِرِ منْ رمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar itu dalam malam ganjil dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan (yakni malam ke 21, 23, 25, 27, dan 29).” (HR. Bukhari no. 2017)


Keutamaan malam lailatul qadar ini sangatlah agung. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


مَن  يَقُمْ  ليلةَ  القَدْرِ إيمانًا  واحتسابًا، غُفِرَ له ما تَقدَّمَ من ذَنبِه

“Barangsiapa berdiri salat dalam bulan Ramadan karena didorong keimanan dan keinginan memperoleh keridaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari no. 35 dan Muslim no. 760)


Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari perkara-perkara yang dapat melalaikan dan menyibukkan kita dari melakukan ketaatan di sisa-sisa bulan Ramadan ini.


Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hambanya yang sukses mencapai garis akhir Ramadan ini dengan prestasi yang membanggakan. Yaitu mendapatkan ampunan-Nya yang sangatlah luas.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 

قَالَ تَعَالَى: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala.

Setiap kita harus senantiasa semangat dalam beramal shalih, karena amal shalih memiliki berkah dan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan. Amal shalih bagaikan nutrisi untuk hati dan keimanan kita.


Namun, tahukah kita, bahwa amal shalih memiliki penyakit-penyakit yang menyebabkan amal tersebut ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara penyakit beramal shalih yang paling besar adalah berlebih-lebihan


Penyakit yang kedua, saudaraku, seseorang beramal akan tetapi dengan semangat yang luar biasa sehingga kemudian ia berlebih-lebihan, yang berakibat akhirnya ia mudah fatur dalam amal tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan kita dari sikap ghuluw. Rasulullah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ.

“Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah)


Ketika Rasulullah masuk ke dalam masjid, beliau mendapati tali yang terikat di antara dua tiang. Rasulullah bertanya: “Tali apa ini?” Sebagian sahabat menjawab: “Ini adalah tali milik salah seorang istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apabila ia shalat malam dan telah lelah, ia shalat sambil bergelantungan di tali tersebut.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

حُلُّوهُ، لِيُصلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَرْقُدْ

“Cabut tali ini, hendaklah seseorang shalat sesuai dengan semangatnya. Apabila seseorang dari kalian telah mengantuk, hendaklah ia tidur.” (Muttafaqun ‘alaih)


Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala.

Inilah, di antara penyakit-penyakit beramal, kewajiban kita berusaha membersihkan amal kita dari penyakit-penyakitnya. Kita berharap agar amal kita diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Abdullah bin ‘Umar berkata, “Demi Allah, kalau aku mengetahui ada satu shalatku yang diterima oleh Allah, itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya.”




Sumber: 

https://muslim.or.id/74456-khotbah-jumat-nasihat-ramadan-waktunya-memacu-kembali-semangat-kita.html

https://www.radiorodja.com/53603-khutbah-jumat-penyakit-penyakit-yang-menyebabkan-amal-ditolak/