Langsung ke konten utama

Khutbah Jum'at Antara Agama dan buday

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ


Hadirin jamaah jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,


syukur alhamdulillah kita haturkan kepada Allah atas berbagai kemudahan yang Dia berikan kepada kita, sehingga kita bisa melaksanakan salah satu kewajiban yang Allah bebankan bagi setiap laki-laki muslim yang sudah baligh, yaitu melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah. 

Dan kita memohon kepada Allah agar amal ibadah yagn kita lakukan ini agar diterima oleh Allah sebagai amal shaleh.


Jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,


Pada kesempatan yang mulia ini, khotib akan membawakan khutbah yang berjudul "Antara agama dan budaya"


Di antara fenomena yang disinggung oleh Allah dalam Alquran adalah tentang ketegangan yang terjadi antara para nabi dan orang-orang yang tidak mau beriman kepada mereka. Disebabkan karena mereka beralasan dengan budaya. Ada sebagian di antara manusia yang saking kuatnya dalam memegang budaya sampai ia jadikan budaya itu untuk menolak kebenaran yang dibawa oleh para nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Az-Zukhruf ayat 23:


 وَكَذَٰلِكَ مَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِى قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقْتَدُونَ


Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. [Quran Az-Zukhruf: 23]


Jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,


Kita mengakui bahwa budaya itu buatan manusia sedangkan agama turun dari Allah Subhanahu  wa Ta’ala pencipta manusia. 


Dalam peraturan perundangan, apabila ada undang-undang yang lebih tinggi, bertentangan dengan undang-undang yang lebih rendah statusnya, maka tentu saja undang-undang yang lebih tinggi, diunggulkan dibandingkan undang-undang yang lebih rendah statusnya. 


Secara sederhana, jika undang-undang yang dibuat oleh Allah yang merupakan agama, bertentangan dengan budaya yang dibuat oleh manusia, 

maka logika sederhana manusia, tentu saja undang-undang yang dibuat oleh manusia harus dikalahkan dibandingkan dengan aturan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Namun jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ada hal penting yang perlu kita catat bahwa agama Allah tidak 100% menolak budaya. 


Agama Islam menjelaskan, bahwasanya budaya yang terjadi di tengah manusia, dibagi menjadi tiga:


Pertama: budaya yang diperintahkan oleh Islam untuk dilestarikan bahkan sebagiannya dihukumi sebagai sebuah kewajiban.


Di antara budaya tersebut adalah memuliakan tamu. Tidak boleh mengganggu sesama. Termasuk juga memuliakan tetangga, dll. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ


“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ


“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].


Ini merupakan salah satu bukti bahwa budaya yang baik dijaga oleh Islam bahkan diperintahkan. 


Kedua: Budaya yang tidak diperintah dan tidak dilarang oleh Islam.


Untuk urusan seperti ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan kepada apa yang menjadi keputusan tradisi masing-masing masyarakat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ


“Kalian lebih mengetahui urusan duniamu.”  [HR. Muslim].


Misalnya, kita di Indoensia banyak sekali budaya dalam urusan aneka pakaian, budaya dalam urusan senjata, masing-masing dalam kondisi yang berbeda. Islam mengizinkan semua budaya ini, yang penting tidak ada pelanggaran terhadap syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau ada pakaian yang tidak menutup aurat. Atau melambangkan kekufuran, maka Islam melarangnya. 


Ketiga: budaya yang bertentangan dengan syariat Allah Subahnahu wa Ta’ala.


Budaya yang bertentangan dengan syariat Allah tentu saja tidak boleh dilestarikan.


Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat tradisi ekonomi masyarakat jahiliyah berupa transaksi riba’, beliau pun langsung menolaknya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, seluruh budaya seperti ini tidak lagi diberlakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ


“Ketahuilah, semua yang berbau Jahiliyah telah dihapuskan di bawah undang-undangku.” [HR. Muslim 2137].


Ketika mendengar ini, tidak ada satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam protes. Mereka tidak menyanggah dengan menyatakan bahwa itu adalah budaya yang harus dipertahankan. Karena budaya semacam ini bertolak belakang dengan apa yang dibawa oleh sang nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagai khotbah yang pertama, mudah-mudahan khotbah ini bermanfaat.


أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khutbah Kedua:


الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..


أَمَّا بَعْدُ:


Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,


Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Kota Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari raya atau perayaan besar yang mereka lakukan sebelum mengenal Islam. Yang pertama adalah hari raya nairuz dan yang kedua adalah hari raya mihrajan. Dua hari raya ini adalah budaya impor dari Persia yang beragama Majusi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan kepada mereka:


قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ


“Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” [HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178].


Sejak saat itu, penduduk Madinah tidak lagi merayakan Nairuz dan Mihrajan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. 


Ini merupakan bukti bahwasanya muslim yang ideal, yang mengikuti petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila dia memiliki suatu kebiasaan atau tradisi dimana tradisi itu tidak sejalan dengan bimbingan yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka siap untuk meninggalkan budaya dan tradisi itu. Sebab, kita tidak boleh mempertahankan kebatilan dengan sebab kebiasaan. Yang tepat adalah bagaimana kita senantiasa untuk membiasakan diri agar tetap di atas kebenaran. 


Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pentunjuk agar kita menjadi termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang senantiasa siap menampung setiap kebenaran, menerima kebenaran, dan membiasakan diri kita untuk melakukan kebenaran yang dibimbing oleh Alquran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 


﴿إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]، وَقَالَ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا» [رَوَاهُ مُسْلِم].

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ   اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ 

إِنَّكَ سَمِيْعٌ، قَرِيْبٌ، مُجِيْبُ الدَّعَوَات.


اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادَكَ المُفْلِحِيْنَ، وَ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ الفِرْدَوْسِ الأَعْلَى


رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

https://khotbahjumat.com/6246-antara-agama-dan-budaya.html