Langsung ke konten utama

Khutbah Allah Menciptakan Manusia Untuk Diuji

 

Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah

Kita bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas segala nikmat yang kita rasakan selama ini. Kita bersyukur atas kesehatan, keimanan dan keislaman; yang mana dua nikmat tersebut adalah tiket menuju surga.

Mari kita terus memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam, terutama pada hari jum’at.

 

Pada khutbah kali ini khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul Allah Menciptakan Manusia Untuk Diuji

 

Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah

Salah satu tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadirkan kita di muka bumi ini, menciptakan kita dari tiada menjadi ada, dari sesuatu yang bukan apa-apa menjadi seorang manusia yang sempurna, adalah untuk diuji.

 

Merupakan hak Allah menguji manusia. Seorang insan tidak boleh berkata “mengapa Allah menguji saya?” karena itu hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kewajiban manusia adalah menjalani ujian. Terserah mau ikut ujian atau tidak, itu kewajiban kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah Al-Insan ayat 2:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur (mani laki-laki dan perempuan) untuk mengujinya, karena itulah Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan[76]: 2)

 

Allah berikan kita alat ilmu (yaitu mendengar dan melihat) supaya kita bisa menjalani kewajiban kita untuk diuji.

 

Jadi hak Allah untuk menguji kita semua dan kewajiban kita semua untuk menjalani ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, apapun ujian itu. Kita tidak bisa memilih: “Ya Allah ujilah aku dengan begini dan begini saja.” Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukannya.

 

Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah

Ujian-ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ada dua macam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya setiap jiwa pasti merasakan mati; dan Kami uji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya[21]: 35)

 

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa ujian dari Allah cuma dua bentuknya, yaitu keburukan dan kebaikan. Dan dua-duanya adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita diuji dengan dua hal itu.

Para mufassirin menyebutkan, yaitu kadang kita diuji dengan sakit dan kadang kita diuji dengan sehat, kadang kita diuji dengan kemiskinan dan kadang juga kita diuji dengan kekayaan. Kadang kita diuji dengan kesempitan dan kadang-kadang juga kita diuji dengan kelapangan. Dan dua-duanya adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Mungkin banyak orang yang mengira bahwa ujian Allah itu adalah ketika dia diberi kesempitan, kesulitan, sakit, miskin, barulah meluncur dari lisan seorang insan “Aku sedang diuji Allah.” Misalnya ada orang yang jatuh sakit, saudaranya mungkin menanyakan kepadanya keadaannya. Maka diapun berkata “Fulan, aku sedang diuji Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

 

Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah

Namun adakah ketika Allah angkat penyakit itu dan Allah beri dia sehat, ketika dia ditanya oleh saudaranya tentang keadaannya, adakah dia mengatakan: “Fulan, aku sedang diuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kesehatan.”

 

Orang tidak mengira itu adalah sebuah ujian. Padahal sakit maupun sehat kita dua-duanya adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan banyak manusia yang gagal justru ketika diuji dengan kebaikan. Maka tingkatannya Allah sebutkan:

بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ

Pertama Allah sebutkan “keburukan” baru kemudian “kebaikan”. Hal ini kenapa persentase kegagalan diuji dengan kebaikan itu lebih banyak dan lebih besar. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata tentang ujian sehat:

نِعْمَتانِ مَغْبُونٌ فِيهِما كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ والفَراغُ

“Dua bentuk (ujian) nikmat yang banyak manusia terpedaya dengannya; kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

 

Maka kita kadang-kadang suka kufur, itulah dia sifat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengungkap hakikat manusia, supaya kita tahu siapa manusia itu.

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sungguh manusia itu sangat kufur kepada Rabbnya.” (QS. Al-Adiyat[100]: 6)

Ketika manusia diuji dengan sakit, dia kembali kepada Rabbnya, dia berdoa, merintih, bertadarru’ minta kesehatan dan kesembuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun ketika diberi sehat dia lalai, lengah, dan tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, padahal dia diberi sehat. Bahkan ada orang yang diberi sehat untuk maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ

“Sungguh manusia itu tahu akan kekufuran dirinya sendiri.” (QS. Al-Adiyat[100]: 7)

Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah

Maka Nabi khawatir terhadap umatnya ini ketika diuji dengan dunia, dengan kekayaan, bukan ketika umat ini diuji dengan kemiskinan.

Hal ini kenapa persentase gagalnya besar ketika manusia diuji dengan kekayaan dibanding ketika diuji dengan kemiskinan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا

“Bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kamu, tapi aku khawatir kamu diuji dengan dunia itu (dan kamu gagal untuk menghadapinya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitulah kita hidup di dunia ini untuk diuji. Maka jangan berharap kita hidup di dunia ini tanpa menjalani ujian dari Allah, apapun itu bentuk ujiannya.

Mudah-mudahan kita kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur dan bukan orang-orang yang kufur.

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيَتِهِ وَإِلَهِيَتِهِ وَأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أُسْرِيَ بِهِ لَيْلاً مِنَ المَسْجِدِ الحَرَامِ إِلَى المَسْجِدِ الأَقْصَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ البِرِّ وَالتَّقْوَى وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى، تَمَسَّكُوْا بِدِيْنِكُمْ، وَلِتَجْتَمِعَ كَلِمَتُكُمْ، وَاحْذَرُوْا مِنْ كَيْدِ أَعْدَائِكُمْ مِنَ الكُفَّارِ وَالمُنَافِقِيْنَ

Amma Ba’du:

Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah

Allah tidak akan membiarkan kita mengklaim beriman sementara kita belum diuji.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia menduga bahwa mereka dibiarkan mengatakan ‘kami beriman’ sementara mereka belum diuji?” (QS. Al-Ankabut[29]: 2)

Ujian itu salah satu hikmahnya adalah untuk menentukan derajat iman seseorang, dilevel berapa iman kita? Dan Allah memuliakan manusia dengan ujian, sesuai dengan kadar imannya. Sungguh pelecehan anak kelas 6 SD diberi ujian anak kelas 1 SD, itu bukan penghormatan kepada anak kelas 6 SD, tapi itu adalah penghinaan yang merendahkan.

Maka Allah uji kita dengan kadar iman kita. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً اْلأَنِبْيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ

“Orang yang paling keras/berat ujiannya itu para Nabi, kemudian yang dibawah mereka dan seterusnya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya)

Kita tahu para Nabi adalah hamba-hamba yang dicintai Allah, hamba-hamba yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi mereka juga menjalani ujian. Artinya semakin tinggi iman kita makin berat ujian.

Maka seorang mukmin ketika diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala jangan dia dongkol, marah, menggugat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita berdo’a agar kita dikuatkan dalam menghadapi ujian-ujian dalam lembaran-lembaran kehidupan kita.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ صَيِّباً نَافِعاً، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادَكَ الصَّابِرِيْن، وَ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ الفِرْدَوْسِ الأَعْلَى

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ