Sawadun Azhim
(Disampaikan di ma'had imam muslim)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Sebelum khutbah dimulai, khatib hendak menyampaikan apa yang dengannya Nabi shallallahu aalaihi salam memulai khutbahnya; dalam riwayat abu Dawud setiap kali Nabi shallallahu alaihi wasalam selesai shalat id, maka beliau mengatakan
إنا نخطب، فمن أحب أن يجلس للخطبة فليجلس، ومن أحب أن يذهب فليذهب
kami akan berkhutbah, siapa yang ingin tetap duduk mendengarkaan khutbah dipersilahkan, dan siapa yang ingin pergi juga dipersilahkan
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
يا أيها الذين آمنوا اتقول الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراً ونساءاً واتقوا الله الذي تسآءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً. أما بعد
Hadirin jama'ah shalat idul fitri yang sama-sama mengharap ridho Allah subhanahu wata'ala
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, membesarkan asmaullah dengan tanpa henti-henti. Makna fithri sekali lagi perlu diluruskan, karena sering kali kita salah dalam memaknainya. Makna fithri yang tepat adalah kembali berbuka: Jadi tidak tepatlah makna yang sering digembar-gemborkan bahwa Idul Fithri berarti kembali suci.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Menandai akhir ramadhan yang agung dan mulia itu, tadi malam telah dikumandangkan kalimat-kalimat takbir, tasbih, tahlil, yang membahana di angkasa raya, yang mampu menggetarkan qolbu, menggelora rasa, dan meraga sukma, sehingga menyadarkan betapa kecilnya diri kita di hadapan Allah subhanahu wata'ala
Saudaraku kaum muslimin, jama'ah shalat idul fitri rahimaniyallahu waiyyakum
Jumlah bukan jaminan izzah muslimin
Pagi ini, segenap kaum muslimin di berbagai daerah nusantara menunaikan shalat dan merayakan Idul Fitri dengan khusyuk dan penuh kepasrahan.
Terlihat oleh kita sawadun azhim jumlah yang sangat besar memenuhi tempat-tempat shalat, memenuhi masjid-masjid, datang berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat idul fithri.
Alhamdulillah kita berbangga dengan jumlah umat islam yang sangat besar ini, karena hal ini merupakan syi'ar islam dan muslimin.
(وَرَأَیۡتَ ٱلنَّاسَ یَدۡخُلُونَ فِی دِینِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجࣰا)
Dan kamu melihat manusia masuk islam berbondong - bondong [Surat An-Nashr 2]
Namun, ingatlah bahwa kekuatan kaum muslimin bukan terletak pada العدد jumlah, izzah kaum muslimin bukan terletak pada banyaknya umatnya.
Masih ingatkah kita, dengan perang hunain; perang yang berkecamuk pada momentum lebaran; tepatnya pada tanggal 10 syawal tahun ke delapan hijriyah: jumlah kaum muslim saat itu adalah 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama. Apa sebab? Allah subhanahu wata'ala menjelaskan:
(لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِی مَوَاطِنَ كَثِیرَةࣲ وَیَوۡمَ حُنَیۡنٍ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَیۡـࣰٔا وَضَاقَتۡ عَلَیۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّیۡتُم مُّدۡبِرِینَ)
Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membuat kalian ujub, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagi kalian, dan jadilah bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian dipukul mundur saat pererangan. [Surat At-Taubah 25]
Bahkan kata Nabi shallallahu alaihi wasallam:
Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Taubahnya seperti orang yang sedang berebut makanan di atas nampan. Salah seorang sahabat bertanya:
وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟
Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?
Kemudian Nabi menjawab:
بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ
Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan
Pada ayat dan hadis ini di atas, menggambarkan kepada kita bahwa jumlah yang besar tidak menjamin izzah muslimin - tidak menjamin kemuliaan muslimin.
Maka Sekali lagi khatib tegaskan bahwa izzah kita - kemuliaan kita: bukan terletak pada jumlah kita yang besar - bukan terletak pada sawadun azhim. Namun Izzah muslimin terletak pada tauhid mereka - terletak pada manhaj mereka - ilmu mereka - amal mereka - agama mereka.
Di lain kesempatan Nabi shallallahu alaihi wasallam memperingatkan kita:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ
Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah
وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ
dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi,
وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ
dan kalian telah senang dengan bercocok tanam
وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ،
dan kalian meninggalkan jihad
سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ
Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian kehinaan
لاَ يَنْزِعُهُ
Yang tidak akan dihilangkan kehinaan tersebut
Sampai kapan ???
حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُم
hingga kalian kembali kepada agama kalian. (HR. Abu Dawud)
Kaitannya tentang hadis di atas dengan kehidupan kita di lembaga ini: kita melihat megahnya bangunan kita - betapa luasnya areal pesantren kita - peserta didiknya mencapai angka 600 - pegawainya juga sangat banyak. Namun jika di suatu masa nanti, para kita lebih condong kepada dunia - kita mengenyampingkan kepentingan-kepentingan agama. Maka Allah subhanahu wata'ala akan menimpakan kepada pesantren kita ini ذُلاًّ kehinaan.
Allah subhanahu wata'ala akan menimpakan ذُلاًّ ketika kita تبايع بالعينة bertransaksi dengan cara riba, Ketika kita mementingkan urusan sapi dari urusan santri, ketika kita lebih semangat berangkat ke ladang dari berangkat ke kelas untuk mengajar.
Allah subhanahu wata'ala akan menimpakan ذُلاًّ ketika kita meninggalkan jihad. Ketika kita enggan berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan keagamaan. Semisal kepanitiaan dauroh, safari ramadhan, dan semisalnya.
Saudaraku kaum muslimin, jama'ah shalat idul fitri rahimaniyallahu waiyyakum
Kebahagiaan yang kita rasakan ini tentu sangat kurang lengkap jika dirayakan sendiri.
Kebahagiaan akan terasa lebih berkesan, jika kita dapat merayakannya bersama keluarga di kampung halaman. Kemewahan perkotaan tak kan bisa menggantikan manisnya kenangan kesederhanaan bersama keluarga yang selalu terbayang di kampung halaman.
Kerinduan kepada kampung halaman seperti ini, juga pernah dirasakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Seperti yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِمَكَّةَ : ” مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ ، وَلَوْلا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada makkah, “Alangkah indahnya dirimu (Makkah). Engkaulah yang paling ku cintai. Seandainya saja dulu penduduk Mekah tidak mengusirku, pasti aku masih tinggal di sini (HR al-Tirmidzi
Jarak jauh melintasi laut dan sungai, medan terjal dan jalan berliku, ditambah waktu, tenaga, serta biaya yang harus dikeluarkan, tidak menghalangi kerinduan kita menuju kampung halaman kita. Walaupun kampung halaman kita berada di tengah hutan, berada di tengah lautan, walaupun kampung halaman kita berada pucuk gunung yang tinggi sekalipun.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Saudaraku kaum muslimin, jama'ah shalat idul fitri rahimaniyallahu waiyyakum
Diantara perkara yang diperbolehkan dalam id atau lebaran adalah untuk berluas dalam masalah minuman, makanan, pakaian, dan berbagai acara-acara mubah.
Karena hari id adalah hari kemenangan. Kemenangan dari melawan syaithan dan syahwat. Hari id adalah hari bergembira, yaitu bergembira atas ampunan Allah yang telah dijanjikan, yaitu gembira dengan kasih sayang Allah, gembira meraih surga Allah yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang diterima puasa mereka.
Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam membolehkan kepada orang-orang habasyah untuk bermain-main di masjid Nabawi, bahkan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menonton permainan mereka, kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata:
لَتَعْلَمُ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً، إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ مسند أحمد بن حنبل (6/ 116)
“Agar orang-orang yahudi tahu bahwa dalam agama kita terdapat kelapangan karena saya diutus dengan agama yang lapang dan mudah.” (HR. Ahmad 6/116 no. 24899)
Begitu juga ketika Abu Bakr membentak dua budak wanita kecil yang sedang menabuh rebana sembari menyanyikan nasyid-nasyid pada hari id, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan:
دعهما يا أبا بكر، إن لكل قوم عيدا، وإن عيدنا اليومَ
biarkan mereka wahai Abu Bakar! Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan inilah hari raya kita (HR. Bukhari no. 3931).
Kaitannya dengan hadis di atas, kita masyarakat indonesia mempunyai sebuah tradisi yang sudah membudaya; dimana setiap individu pada hari idul fitri akan saling kunjung mengunjung, saling kumpul - berkumpul, makan bersama, bersuka ria. Tradisi ini sering diistilahkan dengan halal bi halal.
Halal bi halal adalah sebuah istilah yang dipopulerkan pertama kali oleh Bapak proklamator Indonesia; presiden pertama kita yaitu Ir. Soekarno رحمه الله رحمة واسعة dimana di hari id seluruh partai politik diundang untuk berkumpul dengan tujuan memperbaiki hubungan antar partai politik.
Namun dikemudian hari, istilah halal bi halal mengalami pergeseran makna menjadi kegiatan maaf-maafan di hari raya idul fitri.
Halal bi halal, sangat rentan dengan berbagai macam kemungkaran. Diantaranya pengkhususan maaf-maafan, zina mata, ikhtilath, bersentuhan antara yang bukan mahrom, ghibah, ujub, dan seterusnya.
Maka dari itu, hendaknya setiap kita mempersiapkan siasat demi siasat, dan penjelasan demi penjelasan, agar terhindar dari kemungkaran-kemungkaran tersebut. Karena tidak semua sanak saudara kita faham sunnah, tidak semua sanak saudara kita duduk di majlis ta'lim, bahkan mungkin orang tua kita tercinta termasuk diantaranya.
Kalau kita kita bisa menyiasati hal ini, kalau kita tidak bisa menjelaskan hal ini kepada keluarga kita, maka dikhawatirkan idul fitri kali ini akan menjadi mimpi buruk bagi kita; dimana akan merenggangnya hubungan kekeluargaan, timbul perpecahan, timbul rasa benci, disebabkan keawaman mereka, bahkan mungkin ayah ibu kita tercinta termasuk diantara mereka.
Bicaara soal orang tua, mari sejenak kita kenang perjuangan mereka, ketika kita masih kecil tak bisa berbuat apa-apa. Dengan kasih sayang, mereka menggendong kita, mencium kita dan membesarkan kita dengan penuh cinta. Bagaimana sebaliknya, ketika mereka tergeletak sakit tak berdaya? Sempatkah kita menjenguknya? Berapa kali kita mengusap keningnya, menyuapinya dan menggantikan pakaiannya ketika ia terbaring sakit di atas tempat tidurnya? Rutinkah kita memeluk tubuhnya yang semakin lemah tak berdaya sambil tersenyum sebagaimana yang ia lakukan di masa kecil kita?
Maka betapa sedihnya ayah ibu kita, jika pada momentum yang berbahagia ini, mereka tidak dapat melihat buah hatinya, betapa sedihnya ayah ibu jika tidak dapat memeluk kita. Lihatlah bagaimana kesedihan Nabi Ya'qub alaihissalam ketika beliau kehilangan anaknya tercinta yakni Nabi Yusuf alaihissalam,
وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ
Aduhai duka citaku terhadap Yusuf
وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). QS. Yusuf: 84
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Saudaraku kaum muslimin, jama'ah shalat idul fitri rahimaniyallahu waiyyakum
Kemudian kepada para kaum wanita, sesungguhnya tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhutbah di hari ‘Ied, beliau mengkhususkan nasihat buat para wanita. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ،
Bersedekahlah kalian (para wanita), karena kebanyakan kalian akan menjadi penghuni neraka jahannam.
Mengapa demikian???
لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، صحيح مسلم (2/ 603)
Karena kalian lebih banyak mengadu (mengeluh) dan mengingkari kelebihan dan kebaikan suami. (HR. Bukhari no. 1462)
Oleh karenanya para wanita yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika Anda telah menikah dengan seorang laki-laki, maka wajib bagi Anda untuk berbakti dan taat kepada suami Anda. Dan barangsiapa yang taat kepada suaminya, maka yang demikian adalah sebab utama untuk masuk surga.
Nasihat terakhir dari Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif, halaman 484 patut direnungkan. Beliau rahimahullah mengatakan,
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد
لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب
“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru, hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan taat. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya, hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦]، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا))
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَعَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،
اَللّٰهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَن خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا. اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
{رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}
و صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال - عيدكم مبارك كل عام وأنتم بخير - جعلنا الله من العائدين والفائزين
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sumber: